Veteran : Tentara Israel Sering Melakukan Kekerasan pada Anak-anak Palestina

PALESTINA,WARTARASIL - Para veteran tentara Israel akhirnya mau berbicara tentang ‘gaya’ mereka dalam menangani  wilayah pendudukan di Gaza dan Tepi Barat.

Mereka mengaku dibekali ‘budaya’ merendahkan dan pelecehan terhadap anak-anak Palestina di Tepi Barat dan Gaza.

Pengakuan para veteran itu dipublikasikan oleh Breaking The Silence, sebuah organisasi veteran tentara Israel yang dibentuk 2004 silam. Saat ini, organisasi tersebut beranggotakan lebih dari 850 orang kesemuanya pernah bertugas di Jalur Gaza atau Tepi Barat.

“Pengakuan prajurit itu merupakan merupakan seruan mendesak untuk bagi masyarakat Israel dan para pemimpinnya. Kita harus mendorong wacana serius mengenai harga pemerintahan militer dari Wilayah Pendudukan,” kata laporan itu seperti dikuti Ynetnews.com.

Sejumlah laporan berkaitan termasuk penahanan dan pelecehan anak di bawah umur yang melempari tentara Israel dengan batu dan penerapan kontrol Israel di daerah pendudukan.

Salah seorang sersan dari unit korps lapis baja menggambarkan pekerjaannya sebagai “mengendalikan penduduk,” dalam sebuah kesaksian yang berjudul “Apa ini pekerjaan benar?”

Dia mengaku unitnya akan memasuki desa-desa Palestina setiap hari untuk “membuat kehadiran mereka terasa dan member pesan pada warga bahwa daerah itu bukan milik mereka.

“Setiap hari satu atau dua patrol masuk ke desa. Mereka biasanya dilindungi oleh dua Hummers dan sebuah jip. Satu kompi dapat dikirim menyusul berjalan kaki dalam dua baris seperti parade militer di jalan-jalan, memprovokasi kerusuhan dan memprovokasi, ” kata sersan itu.

Dia mengatakan bahwa tujuan komandannya adalah “menggulung penduduk” sehingga mereka tidak akan pernah berpikir untuk melemparkan batu penjajah mereka.

Lambat Kena Pukul

Sebuah kesaksian menjelaskan secara detail disamarkan penyergapan pada anak-anak Palestina di Qalandiya di Tepi Barat setelah sebuah kerusuhan. Peleton itu akan mengejar anak-anak dan memukuli mereka dengan pentungan kayu saat mereka mencoba melarikan diri.

“Orang-orang dibuat untuk jatuh ke tanah, dan kemudian para prajurit akan pergi mengalahkan mereka. Aturannya jika mereka lambat berlari dipukuli,” seorang sersan pertama dari Korps Teknik dalam publikasi yang sama.

Dia menyebut, penyergapan model itu bisa dilakukan sekitar empat atau lima kali dan bahkan kadang-kadang pada anak-anak yang sama. Meski komanndannya menyebut tujuannya ‘penyergapan’ itu mencegah anak-anak melemparkan batu pada tentara Israel, sang sersan tak mempercayainya sama sekali.

Laporan itu juga mendokumentasikan banyak kasus anak-anak di bawah usia 16 dibawa ke tahanan, ditutup matanya bahkan kemudian kekurangan makanan dan air.

 Belas Kasihan

Seorang sersan pertama dari Brigade Paratroopers yang secara teratur mengambil anak berusia 12-14 tahun ke tahanan karena menyeberangi perbatasan mengatakan mereka diajarkan untuk menangani anak-anak tidak seperti anak-anak kecil, namun harus dianggap sebagai kaki tangan teroris.

“Standarnya seorang perwira intelijen akan ditemani dua tentara untuk mengalahkan satu tahanan. Saya pikir mereka adalah sekitar 16 tahun,” katanya. “Kami telah kehilangan semua rasa belas kasihan.”

Veteran lain menggambarkan bagaimana pasukannya akan bosan dengan patrol rutin dan dengan sengaja justru memicu kerusuhan.

Dia terkait insiden di mana tentara Israel menunggu warga sipil di luar masjid mulai menembakkan peluru karet untuk memicu kerusuhan. Dia mengatakan bahwa jika anak-anak Arab melemparkan batu pada mereka mereka akan menggunakan mereka sebagai tameng manusia.

“Kau tahu seberapa parah dipukuli mereka dapatkan? Jika anda menangkap dia, menodongkan pistol di tubuhnya,d ia tidak bisa bergerak, dia benar-benar ketakutan.”

Menanggapi laporan itu Angkatan Bersenjata Israel (IDF) menuding bahwa Breaking the Silence telah mengungkapkan memang berniat menghasilkan publisitas negatif tentang IDF dan tentara, disbanding memfasilitasi penyelidikan yang tepat.”

“Soal kebijakan, organisasi untuk tidak menyediakan IDF dan badan-badan lain yang relevan dengan bahan penting yang diperlukan untuk penyelidikan. Dengan kompilasi kesaksian selama jangka waktu yang lama dan menolak untuk memberikan detail tambahan, mereka memang tak berniat  memfasilitasi penyelidikan yang tepat,” tulis The Week End Australian mengutip IDF.

Namun pernyataan IDF itu dibantah para veteran. Yehuda Shaul dari Breaking Silence mengatakan “lebih dari 70 dari veteran itu identitasnya diumumkan pada publik, dan aku salah satu dari mereka. ”

“Kalau IDF adalah tertarik menyelidiki klaim kami, kami mungkin akan telah dipanggil untuk interogasi,” kata Shaul.(akh)

 

 

One Comment

  1. triyono says:

    ZIONIST YAHUDI LAKNATULLOH `ALAIH

Leave a Comment

*