Tawuran di Kota Hujan Meningkat 95 Persen
BOGOR,WARTARASIL -
Jumlah kasus tawuran di Kota Bogor selama tahun ajaran 2011-2012 meningkat sebanyak 95 persen, begitu kata Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pelajar, TB Muhammad Ruchjani.
Jumlah kasus tawuran di Kota Bogor selama tahun ajaran 2011-2012 meningkat sebanyak 95 persen, begitu kata Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pelajar, TB Muhammad Ruchjani.“Tahun ajaran ini kejadian tawuran meningkat 95 persen dari tahun sebelumnya, mulai dari Juli 2011 hingga Juli 2012. Sedangkan pada periode tahun ajaran sebelumnya, jumlahnya hanya 80 kasus,” katanya, Sabtu (15/9).
Diperkirakan Ruchjani, aksi tawuran yang banyak terjadi belakangan ini bisa terjadi akibat lemahnya pengawasan pihak sekolah terhadap siswanya.
Satgas Pelajar yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Kota Bogor memiliki keterbatasan anggota untuk secara total mengawasi seluruh pelajar yang ada.
“Peran sekolah dalam mengawasi siswa sangat penting, sekolah harusnya ikut menjaga dan mengawasi siswa-siswanya agar tidak terlibat tawuran,” katanya.
Lebih lanjut Ruchjani menyebutkan, aksi tawuran di Kota Bogor didominasi oleh siswa SMK dengan sesama sekolah kejuruan lainnya.
Umumnya, setiap SMK memiliki ‘musuh bebuyutan’ yang sudah tercipta sejak alumni sekolah tersebut.
Akhir-akhir ini aksi tawuran sering terjadi di Jalan Pajajaran dan Warung Jambu. Selama tiga pekan, dalam satu hari tawuran terjadi antara SMK PGRI 2 dan SMK Mekanika.
Aksi tersebut menyebabkan sejumlah pelajar terluka dan dirawat di rumah sakit.
Menurut Ruchjani, pada era 2000-2009 tawuran mulai pecah di Bogor, aksi tersebut menyebabkan banyak siswa yang terluka bahkan ada yang tewas.
Berdasarkan catatannya, pada tahun ajaran Juli 2010 dan Juli 2011 tercatat tujuh siswa meninggal karena tawuran. Sedangkan pada tahun ajaran 2011-2012 jumlah siswa meninggal 4 orang.
“Untuk yang luka-luka lebih dari 10 orang,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bogor, Dipendi Suhendri mengatakan, Dinas Pendidikan tengah menyusun peraturan mencegah tawuran dengan menindak tegas pelajar maupun sekolah yang terlibat.
“Ke depan, pelajar yang terlibat tawuran akan diproses secara hukum oleh kepolisian, sedangkan untuk sekolah akan diberikan sanksi dengan ditinjau ulang izin pendiriannya,” kata Suhendri.
Suhendri mengatakan, kebanyakan tawuran terjadi dari kalangan sekola swasta. Oleh karena itu, Dinas Pendidikan tengah menerapkan pendataan dan inventarisir siswa yang terlibat tawuran dengan membuat catatan harian sebagai bahan evaluasi bagi siswa tersebut.
“Siswa yang pernah terlibat tawuran beberapa kali akan ditolak masuk sekolah manapun, mereka akan di drop out dari sekolahnya,” katanya.
Sementara itu, kata Suhendri, saat ini Disdik tengah menggelar razia gabungan dengan Kepolisian Bogor dan Satgas untuk menekan angka tawuran. Razia di gelar di sejumlah titik rawan tawuran di Kota Bogor, seperti Plaza BTM, Pajajaran dan Warung Jambu.(akh)
antara











kenapa yah generasi muda kita seperti ini ??
pihak sekolah dan orang tua murid harus lebih dominan memberikan pelajaran akhlak serta budi pekerti, terutama dalam hal pelajaran agama